Welcome To Our Blog :) This blog Contents All About Medical Check Up

Minggu, 04 November 2012

Prosedur Medical Check Up



Medical checkup dapat dilakukan oleh internis atau dokter umum yang berkualifikasi melakukannya. Prosedurnya dapat meliputi beberapa langkah berikut:
 
Wawancara riwayat kesehatan (Anamnesa). Dokter akan menanyakan kondisi umum, Di sini pentingnya kepercayaan pasien kepada dokter Pada bagian ini dokter akan menanyakan : 

1. Keluhan saat ini yang mengganggu
2. Riwayat penyakit sekarang. Di bagian ini dokter akan menanyakan mulai kapan gejala penyakit diderita, bagaimana intensitasnya, kapan timbul gejala itu, adakah penjalaran, adakah gejala tambahan, adakah susah tidur, bagaimana dengan buang air kecil dan buang air besarnya, riwayat alergi yang diderita (alergi obat atau makanan).
3. Riwayat penyakit dahulu. Di sini dokter menanyakan :
riwayat penyakit yang pernah diderita waktu masih anak-anak seperti asma, bronkitis, TBC paru, sakit kuning, dsb. penyakit lain yang diderita seperti hipertensi, kencing manis, cholesterol atau asam urat tinggi, dsb. riwayat kecelakaan yang pernah dialami, apakah menimbulkan patah tulang, pingsan atau muntah.riwayat operasi yang pernah dialami seperti amandel, usus buntu, hernia, dsb.pengobatan yang telah dijalani.
4. Riwayat penyakit keluarga yang dialami oleh orang tuanya, kakek dan neneknya, paman atau
5. Riwayat pekerjaan apakah bekerja di kantor atau di lapangan. Karena ada juga penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan, misalnya karena lingkungan bising, berdebu dsb.
6. Riwayat merokok, berapa banyak dan sejak kapan. Minum alkohol atau tidak dan olah raga dalam seminggu berapa kali.
7. Adakah perubahan berat badan dalam 1 tahun. Dalam hal ini pasien harus menjawab jujur karena dokter akan memeriksa lebih seksama pada bagian tubuh yang pernah mengalami kerusakan akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk mengetahui apakah kerusakan itu masih ada atau sudah sembuh. Misalnya orang yang pernah mengalami stroke, dokter akan memeriksa gejala sisa yang masih ada, kekuatan motorik alat gerak, reflek patologis, kemampuan mengingat, berhitung, dsb sehingga bisa disimpulkan apakah kondisi orang tersebut sudah membaik atau belum, latihan-latihan apa yang diperlukan untuk mengurangi gejala sisa.Riwayat penyakit juga berguna untuk mengarahkan dokter akan suatu gejala dari penyakit tertentu. Misalnya pasien yang menderita batuk hilang timbul. Dari sini dokter akan menemukan lebih lanjut untuk mencari tahu mengapa terjadi batuk, apakah karena infeksi, alergi atau adanya tumor di paru. Setelah itu dokter akan menindaklanjuti dengan memeriksa bagian tubuh yang diduga berkaitan dengan batuk tersebut, mulai dari tenggorokan sampai paru. enyakit dan operasi yang pernah Anda jalani atau obat-obatan yang diambil.Pertanyaan mengenai gaya hidup , pola hidup dan kegiatan olah raga yang kita lakukan. Dalam wawancara ini juga akan di tanyakan apakah ada penyakit tertentu yang menurun di keluarga Anda, seperti diabetes melitus, serangan jantung atau kanker.


Pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan diagnosis lebih lanjut untuk menentukan kesehatan umum, misalnya: pengukuran tekanan darah, detak jantung, denyut nadi, pemeriksaan pernapasan, kulit, abdomen, leher, kelenjar getah bening dan refleks saraf. Dokter juga perlu mengukur tinggi dan berat badan untuk menghitung indeks massa tubuh. Indeks masa tubuh di atas normal meningkatkan risiko berbagai penyakit.Pemeriksaan tekanan darah salah satu pemeriksaan tanda vital Setelah anamnesa, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dari kepala sampai kaki. Dicari adakah kelainan pada bagian tubuh pasien. Yang pertama diperiksa adalah tanda vital pasien, mulai dari pemeriksaan tekanan darah, nadi, frekuensi napas dan suhu. Dari keempat komponen ini dapat diketahui apakah ada tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, denyut jantung yang cepat atau lambat, frekuensi napas yang cepat, gangguan paru, adanya infeksi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada pasien, mulai dari bentuk tubuh, keadaan kulit, adanya benjolan pada leher (baik adanya pembesaran kelenjar getah bening atau tiroid/gondok), bagaimana reflek cahaya pada mata, apakah pupil di tengah atau tidak, adakah kelainan pada sclera/conjunctiva mata untuk melihat adanya penebalan selaput mata atau anemia, pemeriksaan liang telinga dan gendang telinga dilanjutkan dengan pemeriksaan dada, perut, pinggang, adakah pembengkakan atau varises di kaki sampai reflek saraf pasien tersebut.


Pemeriksaan dilakukan melalui :

1. Melihat keadaan pasien (Inspeksi). Bukan tanpa alasan dokter meminta pasien untuk membuka pakaiannya (tentunya untuk pasien wanita diperiksa oleh dokter wanita). Jika ada pakaian yang menutupi tubuh tidak akan terlihat jika ada organ tubuh pada dada atau perut yang tidak normal. Dari inspeksi dapat diketahui pasien menderita suatu penyakit tertentu, seperti penyakit kuning, penyakit paru kronik, bahkan penyakit jantung.

2. Meraba bagian tubuh pasien (Palpasi). Tentu raba yang dimaksud tidak pada semua bagian tubuh pasien dan tetap membuat pasien merasa nyaman. Dengan perabaan dapat diketahui apakah ada pembesaran hati atau limpa, adanya nyeri pada bagian perut atau tumor pada jaringan payudara wanita. Tetapi untuk wanita dapat menolak jika memang tidak ingin diperiksa payudaranya hanya saja menandatangani surat penolakan 

3. Mengetuk tubuh pasien (Perkusi). Berdasarkan suatu prinsip adanya perbedaan bunyi pada organ-organ tubuh. Bunyi paru berbeda dengan bunyi jantung ketika diketuk. Begitu juga dengan bunyi usus dan bunyi hati. Karena itu, jika bunyi yang dihasilkan berbeda, bisa saja ada sesuatu yang tidak normal pada organ tersebut. Selain itu, pengetukan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya pembesaran jantung atau adanya cairan di paru atau perut (yang merupakan hal yang tidak normal).Dalam praktek sehari-hari, tiga pemeriksaan di atas tidak terlalu familier untuk dilakukan karena memakan banyak waktu dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah menggunakan stetoskop atau disebut juga dengan auskultasi.Stetoskop,alat untuk melakukan auskultasi

4. Mendengar suara di dalam tubuh pasien (Auskultasi) dengan menggunakan stetoskop.Tujuannya untuk mendengar suara nafas pada paru, denyut jantung, ataupun bunyi usus yang sedang berkontraksi. Perbedaan bunyi pada organ tersebut pun dapat menandakan adanya gangguan pada organ, seperti adanya bising jantung, adanya suara nafas yang berlebih atau suara ngik-ngik pada paru, bahkan bunyi usus yang menghilang dapat menandakan adanya sumbatan pada usus.Terkadang keempat jenis pemeriksaan di atas dapat dilakukan bersama bila pada salah satu jenis pemeriksaan di atas ditemukan adanya kelainan supaya hasilnya lebih akurat.

5. Menggunakan alat bantu. Pada waktu dilakukan inspeksi ataupun perkusi dengan bantuan alat. Untuk pemeriksaan saraf dilakukan dengan menggunakan palu reflek. Dapat diketahui jika ada gerakan yang tidak normal setelah dirangsang dengan palu reflek yang menandakan adanya gangguan pada otak. Selain itu pemeriksaan saraf juga menggunakan kapas, air dingin, jarum untuk mendeteksi adanya gangguan pada saraf otak.Pada pemeriksaan telinga,digunakan alat otoskop untuk melihat keadaan liang telinga, keutuhan selaput gendang telinga, adanya iritasi pada telinga, adanya kotoran dalam telinga. Untuk memeriksa tenggorokan dengan menggunakan lampu kepala dan tongue spatel. Untuk pemeriksaan hidung dengan speculum hidung. Pemeriksaan mata pun mempunyai alat bantu sendiri. Ada alat berupa slit lamp dan funduskopi yang dapat digunakan untuk melihat keadaan retina mata.
Pemeriksaan pendukung. Dokter akan merujuk Anda untuk mendapatkan tes darah dan tes urin rutin di laboratorium. Pemeriksaan darah dan urin terutama untuk mengidentifikasi kemungkinan gangguan metabolik (misalnya diabetes melitus) atau penyakit ginjal. Untuk tujuan ini, dokter perlu mengetahui tingkat glukosa darah dan lipid darah (misalnya trigliserida dan kolesterol). Untuk mengukur tingkat kebugaran dan kesehatan jantung Anda, dokter bisa meminta Anda mengikuti pemeriksaan dengan threadmill.
Wawancara akhir. Dalam wawancara akhir, dokter membahas hasil-hasil medical check up dengan Anda dan langkah-langkah berikutnya. Dia akan menyusun profil risiko Anda untuk penyakit kardiovaskular dan penyakit lainnya dan memberikan saran-saran untuk meningkatkan tingkat kesehatan dan kebugaran Anda. Pemeriksaan lebih lanjut (mungkin oleh dokter rujukan), misalnya pemeriksaan EKG untuk penyakit jantung, hanya perlu dilakukan jika ada kecurigaan penyakit. Bila tingkat kesehatan Anda secara umum baik, medical check up berikutnya bisa Anda lakukan dua tahun kemudian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar